Data-data: Penghargaan : Juara III Kejuaraan : PENULISAN ESSAY MANDARIN FESTIVAL 2009 Tema : Mandarin Life Style Penyelenggara : SMA Kristen 1 Cirebon Waktu Pelaksanaan : 28 Januari 2009 Nama Penulis : Vinita Sutjipto Kelas : XII.IPA2 (2008/2009) Sekolah : SMA Kristen 1 Cirebon
RODA KEHIDUPAN BUDAYA TIRAI BAMBU Oleh: Vinita Sutjipto
Sungguh hal ini, tak bisa dipungkiri lagi atau mengelak dari realitas yang ada, sebuah kenyataan betapa orang muda telah mengalami suatu masa perubahan corak dan lagak gaya hidup. Saat ini, di mana terjadi pergeseran nilai secara besar-besaran, gaya hidup (lifestyle) serba digital dan instan sangat cepat merasuki tatanan hidup masyarakat dunia tidak terkecuali kebudayaan bangsa Tionghoa yang terkenal telah mendarah daging di setiap warga tionghoa yang tersebar luas di dunia. Ibarat dua sisi mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda, satu sisi kita memberikan tuangan ilmu dan perkembangan hidup manusia dari pola gaya hidup yang serba modern, satu sisi lagi orang muda dihadapkan dengan pola gaya hidup yang asing dan membuat jurang yang dalam dengan adat serta kebudayaan yang mereka anut. Namun sesungguhnya akulturasi budaya cukup memegang peranan dalam hal perubahan gaya hidup kebudayaan Tionghoa. Di Indonesia sendiri pun, warga keturunan Tionghoa di bagi menjadi 2 generasi. Generasi tua yang pernah mengenal secara mendalam budaya etnis Tionghoa baik melalui tradisi keluarga maupun pendidikan formal yang diterima di sekolah-sekolah Tionghoa sebelum pemerintahan Orde Baru, cenderung memiliki perspektif yang sangat diwarnai oleh sudut pandang etnisitas (ketionghoaan) yang bertumpu pada simbol-simbol etnis yang telah melembaga. Sedangkan generasi muda yang lahir dan besar setelah Orde Baru lebih cenderung memiliki perspektif nasionalitas (keindonesiaan), karena latar belakang pendidikan mereka tidak lagi pendidikan Tionghoa melainkan "pendidikan Indonesia" yang diberikan melalui sistem pendidikan nasional yang seragam. Pengekangan selama Orde Baru terhadap tradisi Tionghoa juga menyebabkan generasi ini kurang tersosialisasi ke dalam budaya Tionghoa sebagaimana halnya generasi pendahulu mereka. Selain dari segi bahasa dan pendidikan, agama dan pergaulan Tionghoa keturunan generasi baru juga menampakkan ciri yang berbeda dengan generasi pendahulunya, bahkan perilaku dan gaya hidup mereka seringkali sudah mengadopsi kebudayaan Barat. Globalisasi sangat relevan dengan kehidupan mereka, sehingga persoalan sekarang bagi mereka tidak lagi dalam tataran perjuangan etnis tetapi bagaimana peran mereka dalam kerangka nasional dan global. Oleh karena itu, peluang untuk mengekspresikan identitas etnis ini cenderung ditanggapi secara dingin oleh generasi muda dari Tionghoa keturunan pada umumnya, dan mereka lebih memilih menjadi penonton daripada berperan aktif dalam gerakan kebudayaan. Maka sejak itu, dimulailah perubahan gaya hidup warga keturunan Tionghoa ke arah yang lebih modern. Sebagai contoh perayaan ulang tahun di dalam adat Tionghoa kuno biasanya tidak dirayakan secara terbuka sebelum umur 50 tahun, namun karena pengaruh modernisasi Barat, sekarang ini perayaan ulang tahun dirayakan lebih bebas pada umur berapa saja. Sebelum umur 50 tahun, perayaan ulang tahun di zaman dulu cuma dianggap sebagai urusan internal keluarga dan dirayakan sendiri di dalam rumah. Perayaan ulang tahun terbuka biasanya dimulai dari ulang tahun ke-50, diikuti oleh perayaan kecil setahun sekali dan perayaan besar sepuluh tahun sekali. Perayaan besar sepuluh tahun sekali ini biasanya disebut Co Siu dalam dialek Hokkian (Zhuo Shou). Tidak ada kue ulang tahun dan peniupan lilin seperti perayaan di barat di dalam perayaan ulang tahun tradisional Tionghoa ini. Yang ada seharusnya adalah penghormatan pada leluhur. Tidak ada lagu dinyanyikan, yang ada hanya rangkaian puisi yang dipersembahkan sebagai ucapan selamat kepada yang berulang tahun. Tentu saja sekarang ini ada lagu ulang tahun yang diadaptasi dari lagu "Happy Birthday", judulnya "Sheng Ri Kuai Le". Selain itu, salah satu adat yang seharusnya mereka taati adalah keluarga yang satu marga dilarang menikah, karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan suku. Misalnya : marga Lie dilarang menikah dengan marga Lie dari keluarga lain, sekalipun tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga sangat diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ke orang lain. Misalnya : pernikahan dengan anak bibi (tidak satu marga, tapi masih satu nenek moyang). Namun sekarang ini, warga keturunan Tionghoa generasi muda banyak melanggar adat ini, mereka tetap menikah walaupun marga mereka sama asal tidak berasal dari keluarga yang masih terbilang dekat meskipun keluarga dekat tersebut memiliki marga yang berbeda.
Dalam hal pernikahan, dalam acara pernikahan adat Tionghoa kuno di wajibkan adanya acara “sangjit/ antar contoh baju” yaitu pada hari yang sudah ditentukan, pihak pria/keluarga dan kerabat dekat mengantar seperangkat lengkap pakaian mempelai pria dan mas kawin. Mas kawin dapat memperlihatkan gengsi, kaya atau miskinnya keluarga calon mempelai pria. Semua harus dibungkus dengan kertas merah dan warna emas. Selain itu juga dilengkapi dengan uang susu (ang pau) dan 2 pasang lilin. Biasanya “ang pau” diambil setengah dan sepasang lilin dikembalikan. Namun sekarang ini, acara sangjit ditiadakan dengan alasan kepraktisan. Kemudian, Tionghoa zaman dulu, pantang memakai warna putih dan hitam di hari pernikahan, warga Tionghoa itu kalau pakai baju pengantin harus yang berwarna merah. Karena warna itu adalah warna keberuntungan dan kebahagian. Tetapi sekarang mengikuti budaya Barat pakai baju pengantin warna putih. Selain dalam masalah pakaian, bagi warga Tionghoa zaman dulu, waktu hari H atau hari pernikahan, pengantin wanita dianggap paling tinggi dan setiap orang harus menghormatinya. Namun sekarang tidak lagi pengantin pria dan wanita memiliki kedudukan yang sama bahkan pengantin pria memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada pengantin wanita. Hal ini disesuaikan dengan kebudayaan Negara Indonesia. Sama halnya dalam perayaan tahun baru imlek, pemberian angpao sangat dinantikan oleh anak-anak kecil yang telah memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua atau yang lebih di kenal dengan budaya “kionghie”. Dalam adat Tionghoa kuno, budaya kionghie memiliki aturan yang berbeda, seperti tangan kanan dikepal kemudian tangan kiri menutupi tangan kanan dan jari jempol harus berdiri lurus, dan menempel keduanya. Kionghie kepada yang lebih tua dengan mengangkat sejajar mulut, kionghie kepada yang seumuran sejajar dengan dada,kionghie kepada yang lebih muda sejajar dengan perut. Namun generasi muda sekarang ini kurang memperhatikan cara kionghie yang benar, sehingga cara pemberian kionghie disamaratakan tanpa mempedulikan keberadaan tangan yang seharusnya dalam hal berkionghie. Pada adat Tionghoa kuno di hari raya Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa saling mengucapkan “Sin Cun Kiong Hie” (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat menyambut musim semi atau selamat tahun baru, tetapi ucapan demikian sekarang udah kuno alias tidak trendi lagi, karena telah diganti dengan ucapan “Gong Xi Fa Cai” atau (Kiong Hie Hoat Tjay) yang berarti semoga sukses selalu atau selamat jadi kaya, maklum generasi sekarang lebih ke arah kesuksesan hidup begitu. Kemudian pada adat Tionghoa jaman dulu, pemberian angpao menggunakan koin bernominal kecil yang diikat terlebih dahulu menjadi untaian uang dengan menggunakan tali merah, dengan maksud semakin banyak koin yang diberikan melambangkan umur panjang, meskipun pada jaman tersebut telah ada uang kertas. Namun sekarang ini angpao yang diberikan menggunakan uang kertas dan generasi muda tidak tahu lagi makna sesungguhnya dalam hal pemberian angpao di tahun baru imlek.
Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi di hari pertama Tahun Baru Imlek, hanya kaum pria saja, tetapi sekarang adat ini sudah tidak berlaku lagi. Dan yang harus dikunjungi secara berturut-turut adalah orang tua suami, setelah itu barulah orang tua istri. Lalu ke sanak keluarga lainnya. Tetapi sekarang ini dalam hal berkunjung sudah tidak lagi memperhatikan urutan tersebut, yang penting mengunjungi orang tua, entah itu orang tua istri terlebih dahulu atau orang tua suami terlebih dahulu.
Dengan demikian, kita tahu bahwa kebudayaan bangsa Tionghoa telah mengalami banyak perubahan yang sesuai dengan perkembangan jaman kearah era globalisasi dan perubahan gaya hidup modernisasi budaya Tionghoa tidak luput dari campur tangan akulturasi dari budaya-budaya negara lain.
|